Translate

Minggu, 26 Agustus 2018

Inspiring Journey Shafira and Komunitas ISB Blogger Gathering


Bulan Maret tahun depan, Shafira akan berulang tahun yang ke-30. Sebagai rangkaian acara menuju ultahnya, Shafira bekerja sama dengan Komunitas ISB mengadakan gathering blogger bertema “Inspiring Journey” di Twins House Cipete pada tanggal 23 Agustus 2018. Acaranya sangat bagus lho gengs, bersama kak Dini Fitria sebagai Mc, Inspiring Woman Kak Nadiah Fatimah (Lupus Survivor) dan Workshop Photography dengan Mas Yogie Bowie dan tak lupa Shafira dengan mini show koleksi busananya.




Sebagai perusahan busana muslim pertama di Indonesia, Shafira terus berinovasi hingga masih tetap eksis sampai sekarang. Shafira berdiri pada tahun 1989 dengan Ibu Feny Mustafa sebagai founder dan President of  Commisioner Shafira Corporation. Wah umurku sama dengan Shafira dong gengs.



Melalang buana di dunia fashion muslim selama hampir 30 tahun, membuat Ibu Feny Mustafa memiliki keyakinan bahwa Indonesia dengan keberagaman budaya dan selera fashion yang tinggi bisa membawa negara muslim terbanyak ini menjadi kiblat fashion dunia. Visi ini akhirnya ditularkan Ibu Feny kepada para designer Indonesia lainnya hingga tercetus tahun 2020 Indonesia akan menjadi kiblat fashion muslim dunia. Spirit ini juga yang aku rasakan saat hadir di acara Jakarta Modest Fashion Week beberapa waktu lalu.

Kak Seli, Marcom Shafira
Untuk mencapai visi tersebut, maka Shafira juga memulai #Journeytoworldclassfashion dengan mengikuti berbagai ajang fashion week bergengsi di dunia internasional. Tak hanya itu brand premium ini bekerja sama dengan Swaroski sehingga koleksi baju Shafira terlihat lebih elegan dan bersinar.

Pada tahun 2015, Shafira sukses berpartisipasi pada Couture Fashion Week di New York. Tema yang dibawakan yaitu “When West Meet West”. Perpaduan Songket tradisional Silungkang yang berasal dari Sumatera Barat dan taburan kristal Swaroski yang berkilauan berhasil memukau para bule.

Songket Silungkang berwarna abu - abu

Detail kristal Swaroski
Selanjutnya di tahun 2017, Shafira ikut dalam Sparkling Couture di Dubai. Shafira merupakan satu – satunya dari Indonesia yang menjadi perwakilan Asia untuk kategori fashion busana. Tema yang dibawakan yaitu “Majestic Shafira”. Baju mewah nan cantik yang dihiasi puluhan ribu kristal swaroski.

Koleksi terbaru Shafira pada tahun 2018, terinspirasi dari Jalan Braga di Bandung dan diberi nama “Ngabraga”. Ngabraga adalah sebutan orang Sunda jaman dulu untuk ajakan jika ingin jalan – jalan ke Braga. Koleksi yang ditampilkan bergaya vintage tahun 20-an dengan warna beige, coklat, putih dan bergaya maskulin dengan aksen bordir.


Kerudung organza khusus yang lentur dan tidak licin dengan bordir bunga secantik mojang bandung
Bekerja sama dengan swaroski, Shafira mengeluarkan kerudung dengan sentuhan personal touch. Kamu bisa memesan kerudung dengan inisial namamu yang ditulis dengan Kristal Swaroski. Kerudung yang digunakan adalah kerudung segiempat bahan satin.


Nama tertera di bagian belakang kerudung
Kemudian acara dilanjutkan dengan berbagi kisah inspirasi dari Kak Nadiah Fatimah. Beliau adalah seorang lupus survivor. Kak Nadiah menceritakan tentang penyakit yang dideritanya dan juga caranya hijrah menuju jalan Allah.



Lupus atau penyakit seribu wajah adalah penyakit yang menyerang autoimun seseorang. Jika pada kondisi normal system imun bekerja untuk melindungi dari infeksi, namun pada penderita lupus system imun justru menyerang tubuhnya sendiri. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung dan otak. Penyebab terjadinya penyakit lupus hingga saat ini belum diketahui. Sebagian besar orang yang memiliki penyakit lupus adalah wanita, hal ini disebabkan karena kromosom gen yang dimiliki oleh wanita.

Sebelumnya kak Nadiah adalah seseorang yang aktif dan bekerja sebagai seorang LO. Dengan rutinitas mengurus schedule para artis hingga artis dunia membuat kak Nadiah harus pergi ke tempat – tempat yang tidak disukai Allah. Hal ini membuat kak Nadiah berpikir, walau setiap hari tetap melaksanakan shalat tapi kenapa masih mendatangi tempat seperti itu ?



Singkat cerita akhirnya kak Nadiah hijrah, meninggalkan pekerjaan tsb dan mulai berbenah diri mendekat kepada Allah. Kak Nadiah meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk merasakan nikmat Iman. Lalu kak Nadiah mantap berhijrah, menggunakan hijab dan menikah tanpa proses pacaran. Tepat di malam pertama pernikahan, Allah memberi kado special. Pada malam itu, maka aktiflah penyakit lupus. Tiba – tiba saja kaki bengkak, persendian mulai sakit dan muncul ruam – ruam di tubuh.

Penyakit lupus yang diderita kak Nadiah cukup parah, dalam waktu 2 minggu penyakit tersebut sudah menjalar ke otak. Hal ini menyebabkan bagian pinggang ke bawah kak Nadiah lumpuh. Bahkan dokter mendiagnosa umur kak Nadiah hanya tinggal 6 bulan saja. Kak Nadiah sempat merelakan suami jika ingin melakukan poligami. Namun tak disangka sang suami malah menolak  tawaran tersebut dan meninggalkan semua pekerjaan dan fasilitas lainnya di Belanda. Beliau fokus merawat istri tercinta dengan tangannya sendiri.




Disaat seperti ini kak Nadiah muhasabah diri dan tetap bersyukur. Inilah jawaban doa kak Nadiah. Kenikmatan iman dan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah. Mungkin penyakit ini bisa sebagai penghapusan dosa masa lalu kak Nadiah yang sering melangkah ke tempat yang tidak disukai Allah. Kak Nadiah juga bersyukur walau sekarang ia lumpuh tapi selama 27 tahun lalu ia masih bisa merasakan nikmat bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri.

Dengan kuasa Allah, maka tepat di bulan kesebelas, kak Nadiah mulai bisa merasakan kembali jari kakinya. Ini adalah sebuah keajaiban, melalui berbagai tahap terapi akhirnya kak Nadiah bisa berjalan normal kembali sekarang. Tak hanya sampai disitu, Allah juga memberikan keajaiban kembali yaitu dengan hadirnya seorang anak bernama Aisyah. Kehamilan dengan penyakit lupus memiliki resiko sangat tinggi. Penyakit ini bisa menyerang si bayi maupun si ibu hingga berujung pada kematian. Kun fayakun, penyakit lupus kak Nadiah aktif kembali setelah Aisyah terlahir ke dunia. Jadi selama kehamilan penyakit tsb tertidur.

Hingga saat ini kak Nadiah terus berproses hijrah, memperbaiki diri terus menerus. Kak Nadiah juga mengikuti kelas online Bengkel Diri yang digagas oleh Ummu Balqis. Oooouuchh ternyata kita satu almamater kak. Hanya saja kita berada di kelas yang berbeda. Pantas saja saat ngobrol bareng, kata – kata motivasi hijrahnya hampir sama dengan kata – kata Ust. Meti dan Ummu. Peluk erat kak Nadiah, pantas saja Ummu pernah mention bahwa kak Nadiah ini adalah sosok wanita hebat. Tak hanya hebat namun kisahnya juga sangat menginsprasi. Tepat sekali Shafira menunjuk beliau sebagai pembicara, sesuai dengan temanya Inspiring Journey.

Acara selanjutnya adalah workshop photography bersama kak Yogie Bowo.  Pada sesi ini tidak banyak berbicara tapi kami langsung diajarkan untuk praktek. Kami diajak ke luar ruangan dan memilih spot untuk foto. Pada timku, uni dzalika sebagai model berpose duduk di taman. Kak Yogie menjelaskan secara singkat tentang komposisi yang baik. Jika model melihat ke arah kiri maka space kosong berada di arah sebelah kiri juga. Perhatikan angle model.

Hasil praktek workshop dengan Uni Dzalika sebagai model

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, pertanda acara sudah harus selesai. Huuuaaa senang sekali bisa datang ke acara ini. Thank you Shafira dan Komunitas ISB. Berfaedah dunia akhirat, semoga berkah dan rejeki kalian semakin lancar, aamiin.





Back to Top