Translate

Minggu, 31 Maret 2019

Bedah Tulisan Travelingku Bersama Dini Fitria, Seorang Penulis Profesional Hingga Traveling Anti Panik Dengan JavaMIfi


Sebagai seorang blogger, pasti sudah familiar dengan menulis artikel. Sudah puluhan bahkan ratusan artikel yang publish dan dibaca oleh ribuan metizen. Apakah kamu sudah puas dengan hasil tulisanmu ? Tapi bagaimana nilai tulisanmu di mata seorang penulis?




Tak harus punya pengalaman sebagai penulis handal untuk menjadi seorang blogger, semua orang bisa menjadi blogger. Syarat utamanya hanyalah memiliki sebuah blog. Kalau aku dulu awal mula ngeblog adalah untuk sharing. Jadi aku bercerita tentang hal yang aku suka. Seiring berkembangnya era digital ternyata tulisan yang tadinya hanya sekedar untuk sharing itu bisa ‘naik kelas’ menjadi paid post. Para sponsor tertarik untuk mendanai tulisan. Nah karena tulisan di blog sekarang sudah naik kelas, maka aku sadar bahwa akupun harus ikut naik kelas dengan cara upgrade skill.

Dini Fitria adalah seorang mantan jurnalis yang kini menjadi seorang penulis. Buku seri cinta beliau berjudul Muhasabah Cinta, Hijrah Cinta dan Islah Cinta merupakan buku best seller. Buku yang mengangkat cerita tentang islam sebagai agama minoritas di berbagai negara berkembang ini dibumbui dengan romantisme dan juga kaya akan diksi. Membuat siapapun yang membaca buku ini akan hanyut kedalam suasana. Aku sendiri sempat meneteskan air mata saat membaca sepenggal kisah di novel Muhasabah Cinta yang menceritakan tentang orang Maroko. Yup bisa ditebak kan, diksi kak Dini membuatku teringat memori saat aku dan alm suami berada di tengah – tengah kehangatan keluarga Maroko kami dulu. Produser acara Jazirah Islam ini berkata tulisannya bisa membuatku menangis karena tulisannya memiliki ‘rasa’. Beliau menulis dengan sepenuh hati sehingga pembaca bisa larut dalam emosi.



Pada Workshop “Travel Writing With Dini Fitria” yang diselenggarakan oleh Komunitas ISB hari jum’at lalu, aku senang sekali blogku terpilih sebagai blog yang dikupas oleh kak Dini. Aku bukan seorang penulis profesional jadi aku merasa perlu tahu sudut pandang dari seorang penulis profesional tentang hasil tulisanku. Selama ini kalau ingin publish tulisan ya langsung publish saja, tidak ada editor layaknya artikel yang akan publish di majalah. Ibaratnya kak Dini sekarang jadi editor dadakan beberapa tulisan travelingku.



Hasilnya adalah tulisanku tidak ada rasa. Bahkan perlu banyak perbaikan disana – sini. Karena tidak ada rasa jadi pembaca kurang tertarik membaca tulisanku sampai habis. Hahahahha benar kak makanya di artikel tersebut tidak ada komentar. Menambahhkan rasa pada tulisan ternyata bisa dipelajari, bisa diasah hingga akhirnya terbiasa. Aku harus banyak belajar nih. Banyak membaca buku juga secara tidak langsung membuat aksara kata bertambah dan belajar keragaman pengolahan kata.



Selain itu kritik lain dari beliau adalah di artikelku temanya lari kemana – mana. Aku belum tuntas bahas suatu hal tapi sudah loncat ke hal lain. Sebenarnya hal ini bisa dicegah dengan adanya Premis. Premis adalah kalimat yang mengandung jiwa dari tulisan, konsep awal yang akan menjelaskan tentang semua yang akan dituju sebuah tulisan. Tips dari Kak Dini, jika hendak traveling ke suatu tempat, sudah dikonsep dari awal dulu nanti mau membuat konten tentang apa. Hmmm iyaa kak, kuakui memang saat traveling itu aku sama sekali tidak ada konsep karena aku terlalu menikmati jalan – jalan itu sendiri. Lalu kenapa jadi konten di blog? Karena banyak yang bertanya tentang penginapan kami selama disana ya jadi aku ceritakan saja di blog. Ceritanya ya mengalir begitu saja. Jadi memang tak berkonsep, ini yang membuat tulisanku jadi loncat sana sini.



Setelah mendengar sudut pandang beliau dari kacamata seorang profesional, aku jadi membaca kembali artikel lamaku. Artikel yang berjudul Penginapan Murah Di Istanbul ini aku publish pada tahun 2018. Saat membaca kembali aku jadi teringat momen sedih dan panik aku dan suami dulu saat pertama kali sampai di Turki. Rasanya mau nangis kalau ingat hal itu deh. Ada drama saat di bandara.

Berbekal pengalaman kami berdua mengunjungi berbagai Bandara Internasional yang sudah pasti Wifi mudah connect dan kenceng, jadi kami tenang – tenang saja. Bandara Internasional Maroko saja Wifinya sudah bagus kok dan mudah digunakan apalagi sekelas Bandara Internasional Turki yang negaranya lebih maju dibanding Maroko. Sampai akhirnya kejadian tak terduga terjadi. Pesawat kami delay sehingga terlambat masuk Turki dan saat hendak mengantri di imigrasi antrian cukup mengular panjang. Apesnya saat itu Wifi bandara juga sedang ada trouble jadi tidak bisa digunakan untuk sementara waktu. Suamiku mulai panik, bagaimana cara mengabari kerabat kami yang akan jemput. Suamiku ini kalau udah panik ya nyerocos mulu. Padahal biasanya mah orangnya sabar. Kami coba telepon menggunakan nomor maroko dan juga whatsapp sayangnya roamingnya terlalu besar jadi pulsa kamu tidak mencukupi. Suami semakin panik. Apalagi beliau orangnya tidak enakan, kami sudah telat 4 jam dari waktu janjian jemput di Bandara. Kami sangat tidak enak sekali dengan mereka dan pastinya mereka  juga khawatir dengan kami yang tak berkabar. Terakhir kontak di Bandara International Maroko mengabarkan pesawat kami akan berangkat. Nah kalau sudah begini suami jadi ngomel deh kenapa tidak isi pulsa yang banyak waktu di Maroko? Bisa enggak sih bawa wifi sendiri ke luar negeri? Ada enggak wifi rental ? Wes lah aku tidak bisa bilang apa – apa. Kalau dia udah ngoceh mulu dan enggak sabaran begitu pasti emosinya mudah tersulut jadi lebih baik aku diam saja. Biar suasana tidak semakin panas. Aku tidak mau kami sampai berantem disini.

Setelah kami berhasil keluar Bandara, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku tidak menemukan wajah orang Indonesia satupun di pintu keluar. Makin panik lha pak suami, bagaimana cara kita ke hotel? Kita baru pertama kali ke Turki, tidak tahu daerah tempat hotel yang akan dituju. Tidak tahu harus naik kendaraan apa, mengingat waktu sudah hampir larut malam, kami juga khawatir akan keamanan di angkutan umum. Tapi yang pertama kali harus dilakukan adalah kabari kerabat kami dulu. Siapa tau mereka masih menunggu kami. Setelah berjalan mondar – mandir di gate keluar, kami  melihat ada konter kartu perdana. Tanpa basa basi pak suami langsung beli kartu itu. Harganya cukup mahal ternyata yaitu sekitar Rp 500.000. Eng ing eng, si mbaknya tidak info ke kami kalau kartu tersebut baru bisa aktif setelah menunggu sejam dahulu. What ?? Kesel kan udah bayar mahal – mahal taunya masih harus nunggu sejam lagi. 

Tingkat kepanikan suami udah semakin naik. Sekarang dia berjalan lebih cepat mencari alternative lain sambil matanya menerawang jauh mencari – cari kerabat kami. Aku sampai enggak digandeng tangannya gengs padahal mah daritadi pas di pesawat enggak pernah dilepas. Aku tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Tiba – tiba dia berhenti di konter kartu perdana Turki yang lain dan beli dengan jaminan saat itu juga bisa langsung dipakai. Proses pembelian memakan waktu beberapa menit karena prosesnya memakai paspor. Jadi paspor suami harus di copy dan dimasukkan datanya dulu di system mereka. Lalu tiba – tiba kami bertemu kerabat kami di konter tersebut. Mereka melihat kami duluan. Aaahh senangnya akhirnya ketemu juga. Ternyata mereka juga mondar - mandir mencari kami sejak tadi.

“Excuse me sir, here is your passport and your handphone, now you can use it”, ujar pelayan konter. Kata – katanya membuyarkan kebahagiannku. Ya ampun beli kartu perdana Turki sia – sia dong! Taunya kami bertemu tanpa harus memakai kuota kartu Turki sama sekali. Padahal kami beli semua kartu itu untuk menghubungi kerabat kami. Yaaahh uang shopping di Turki berkurang doong, mana banyak banget pula, sejuta ! Huaaaaa nyesek banget deh kalau inget hal itu.


Jangan sampai mengalami hal seperti aku nih gengs, gara – gara jaringan wifi bandara error kami jadi hampir berantem dan merelakan sejumlah uang yang tak sedikit. Sekarang ini ada kok sewa wifi luar negeri. Contohnya adalah Javamifi. Traveling jadi bebas worry dengan adanya  wifi sendiri  yang bisa dibawa kemana – mana. Keunggulan dari JavaMifi adalah bisa mencakup di lebih dari 160 negara, kuota yang unlimited, koneksi 4G stabil di berbagai negara, bisa dipakai hingga 5 perangkat sekaligus, ketahanan baterai hingga 15 jam dan tentunya ringan. Ukurannya juga tidak terlalu besar jadi masih aman nyempil di tas kecil.



Kalau aku kemarin sewa mifi ini, enggak bakal ada drama tuh di bandara. Enggak perlu beli kartu perdana baru, tinggal nyalain JavaMifi, masukkan password dan langsung connect deh ! Jika ada kendala dengan wifinya, enggak perlu khawatir karena customer supportnya tersedia online selama 24 jam setiap hari.

Harga yang ditawarkan JavaMifi bervariatif tergantung dari area negara. Untuk Singapore harganya Rp 50.000/hari. Jepang, Korea,Malaysia, Thailand, Vietnam, Hongkong dan Taiwan Rp 60.000/hari. Lalu China VPN, Macau, Nepal, Myanmar, India dan Philipin Rp 80.000/hari. Untuk Australia, New Zealand, USA dan Canada harganya Rp 100.000/hari. Selanjutnya Middle & South America Rp 120.000/hari.



Mau diskon ? Tenang aku punya kode voucher yang bisa kalian pakai. Kamu bisa mendapatkan diskon sebesar 10 % dengan kode TutySaca10. Traveling kemana aja jadi anti panik deh karena udah tenteng wifi sendiri.

Kamu bisa dengan mudah mengambil Javamifi di Bandara lalu mengembalikannya di tempat yang sama atau juga bisa diantar kerumah dan pengembalian Javamifi dari rumah tanpa dipungut biaya. Wah enak ya !



Kembali ke workshop menulis dengan rasa, Kak Dini langsung mengajak kami untuk praktek. Mulai dari tema, pemilihan premis hingga alur cerita kita diskusikan bersama. Salah satu tips untuk memunculkan rasa adalah dengan menggunakan lima panca indera. Gunakan 5 indera untuk menggambarkan setting bagaimana tampaknya, bagaimana aromanya, bunyi, rasa dan sentuhan. Tidak mudah memang tapi juga tidak susah. Kita hanya butuh lebih peka terhadap sesuatu. Pesan Kak Dini memang harus banyak berlatih membaca dan terbiasa menulis.

Menyerap ilmu menulis melepaskan banyak energi  otakku untuk berpikir. Baru workshop selama 2 jam saja membuat perutku sudah bernyanyi. Akhirnya break makan siangpun tiba. Kami dijamu oleh Royal tumpeng yang menyajikan tumpeng besar yang sungguh menggiurkan. Nasi kuning yang berundak – undak seakan memanggil – manggil namaku untuk cepat mendekat. Lauknya pun cukup beragam, ada ayam goreng, perkedel, telor balado, abon, telor dadar, sambal goreng kentang, tempe orek dan tak ketinggalan sambal. Kami boleh ambil porsi sesuka hati sepuasnya sampai kenyang. Eits, tapi jangan lupa dengan orang lain, jangan sampai karena kita ambil terlalu banyak lalu teman yang lain jadi tidak kebagian.



Rasa dari setiap makanan di tumpeng ini enak lho gengs ! Nasinya pulen dan cukup berasa bumbunya. Ayam gorengnya empuk dan tentunya sambel pedasnya bikin nagih. Kamu mau coba juga? Pas banget nih buat yang rumahnya di daerah Jakarta, Bekasi, Depok dan Tangerang bisa delivery. Desain dari tumpeng yang ditawarkan juga beragam gengs. Ada yang berbentuk gunungan seperti di foto, ada juga yang berbentuk hati, masjid, inisial huruf, ala wedding cake bahkan sampai ada yang berbentuk angry bird !

Setelah perut kenyang, energy full, otak bisa kembali fokus dan siap menerima ilmu kembali. Sesi selanjutnya adalah tanya jawab dan bisa mengutarakan kesulitan selama membuat tulisan di blog. Kami berdiskusi banyak hal. Semuanya bermanfaat sekali untuk pembelajaran ke depannya. Terima kasih Kak Dini Fitria atas ilmu yang dibagikan dan terima kasih Komunitas ISB atas kesempatan yang diberikan sehingga aku bisa ikut dalam workshop ini.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top