Translate

Rabu, 02 Mei 2018

Happy Birthday To Me. Flashback Kado Terakhir Dari Alm Suamiku


Happy Birthday to myself. Ulang tahun kali ini sungguh berbeda. Bulan Mei yang selalu aku tunggu dengan perasaan deg – degan menanti kejutan apa yang akan dihadirkan oleh suamiku kini menjadi tak ada lagi. Aku tetap bersyukur karena begitu banyak rejeki, hikmah dan hidayah yang aku terima setahun ini.


Kini bulan Mei memiliki 2 makna bagiku. Sebagai hari kelahiran dan juga sebagai hari dimana kita berpisah di dunia selamanya, hari kematianmu. Tak pernah terpikirkan olehku, kau akan pergi secepat ini dengan cara yang sungguh cepat pula. Tak ada habisnya aku bersyukur kepada Allah, di hari ulang tahunku tahun lalu kau memberikan kado terakhir yang sungguh luar biasa memorable. Aku mau flashback ultahku tahun lalu.

Ucapan birthday terakhir dari alm, kok yaa bisa pas ada emoji nangisnya 



Pertama, kau menghadiahiku dengan liburan ke Turki. Kami liburan ke Turki pada bulan April dan menjadi early birthday gift buatku. Kenangan ini sungguh berharga buatku. Ini merupakan holiday pertama dan terakhir buat kami. Beliau itu pekerja keras dan sibuk sekali. Hampir seluruh waktunya dia dedikasikan untuk bekerja. Makanya jarang sekali bisa liburan berdua bebas, apalagi destinasinya adalah Turki, tempat yang sudah lama sekali ingin aku datangi bahkan dari jaman gadis dulu.


Pantas saja saat di Turki kamu begitu cerewet menyuruhku untuk ngevlog. Padahal aku tidak ingat dengan kamera saking asyiknya dengan keindahan Turki. Ternyata ini firasatmu yaa sayang agar liburan kita terdokumentasi dengan baik, kenangan indah terjaga dengan apik. Bahkan 3 hari sebelum kamu meninggal, kamu memaksaku untuk menyelesaikan editan vlog secepat mungkin. Bahkan aku sampai ditungguin editnya, padahal biasanya kalau kamu sudah ada di rumah aku harus jauh – jauh dari segala gadget dan fokus dengan kebersamaan kita. Sampai aku tidak sadar kamu merekamku diam – diam saat aku sibuk berkutat dengan editan di laptop.


Di candid saat aku ditungguin disuruh selesaikan editan vlog Turki sekarang juga



Liburan kami ke Turki memang sungguh aku syukuri karena tanpa campur tangan Allah mustahil kami bisa pergi kesana. Sempat tidak jadi dan tarik ulur sama suami akhirnya Allah memberikan solusi yang diluar dugaan kami. Drama sebelum keberangkatan kami ke Turki aku tulis di  post buah dari ikhlas, langsung dibayar kontan sama Allah. 



Kedua, saat di Turki dari Grand Bazaar menuju hotel, kami lakukan dengan berjalan kaki menyusuri gang – gang yang dipenuhi oleh butik – butik. Pak suami selalu berhenti sejenak di display butik perhiasan. Bukan sembarang perhiasan, tapi perhiasan berkilau yang sungguh menyilaukan. Diamonds everywhere.

“Bagus – bagus banget say kok beda ya sama yang di Indo. Sini sayang liat, coba pilih yang mana”, katanya dengan semangat.


Mendengar kata – katanya yang tertarik dengan perhiasan aku langsung deg – degan. Takut dia minta masuk ke dalam butik. Okay aku tahu diri harga perhiasan itu pasti sangatlah mahal. Aku bukan tipe orang yang masuk ke suatu toko, tidak berniat membeli dan cuma tanya – tanya saja. Jadi ya aku tidak mau diajak masuk untuk melihat – lihat ke dalam. Eh ya tapi dia masuk lho ditemani oleh bule yang juga sehotel dengan kami dan hari itu kami berkeliling Istanbul bersama mereka.

“Yah say, ukurannya enggak ada yang kecil, besar semua. Oia say, kamu bawa atm BCA kan ya? Kayanya cashku kurang, mesti gesek. Bisa kan ya?”

Okay aku cuma senyum aja jawabnya. Padahal dalam hati seriously? Budget ke Turki aja kamu awalnya berat karena mahal. Ini kok tiba – tiba kepengen beli berlian lagi.

Pak suami itu kalau sudah kepengenan, mesti diturutin dan pasti serius. Iya beneran dia bolak – balik perhatiin display toko berlian. Pokoknya tiap ada toko berlian itu pasti disamperin sama dia. Aku mah apa, cuma berani liatin di displaynya aja.

“Kenapa c say serius banget liatin perhiasan?”, tanyaku akhirnya penasaran.

“Perhiasan di Turki kualitasnya beda sama yang di Maroko dan Indo say. Aku kepengen kamu punya deh”, jawabnya dengan mimik muka meyakinkanku.

“Aaah mahal say, lagian kan aku udah punya diamond juga dari kamu. Cukup say”, jawabku sambil mengenggam tangannya menjauh dari toko berlian.

“Gpp say, ini buat kado ultahmu bulan mei besok”, jawabnya sambil kecup pipiku.

“Eh, kado? Lho bukannya ini jalan – jalan ke Turki kadonya ya?”, tanyaku sambil setengah kaget

“Iyaa ini jalan – jalan ke Turki sama cincin yaa nanti kado buatmu”

“Gak usah say, nanti tabungan kita makin menipis gimana”

“Gpp say, emang udah diniatin. Itu rejeki kamu”

“Ya Allah say, banyak bangeeet aahh kadonya. Maaciihh”, kataku dengan semangat sambil peluk suami dengan erat.

Setelah cari sana – sini tidak juga menemukan ukuran cincin yang pas. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan saja cincinnya dengan ukuran jari yang sesuai dengan jariku. Desain cincinnya pun mas surat yang pilihkan. Okay, dia sibuk dan detail maunya begini – begini. Kali ini aku manut aja sama keinginan suamiku. Padahal biasanya ibu – ibu ya yang sibuk milih perhiasan ini mah malah suaminya hehehee.



Karna ini hadiahnya special jadi harus sesuai dengan keinginan beliau katanya. Well memang aku sadar banget, sebagai pekerja buruh kasar barang ini begitu special. Dibelakangnya ada jerih payah, banting tulang, peluh kesah dan tetesan keringat. Ia menginginkan selalu yang terbaiklah yang diberikan kepada istrinya. Aku tidak pernah menuntut untuk dibelikan perhiasan – perhiasan atau barang lainnya. Dulu jika aku sedang kritik pak suami weekendpun harus kerja, pak suami sering bercanda menyanyikan lagu wali untukku, pergi kerja untuk membeli sesuap nasi dan sebongkah berlian. Ternyata hal itu terwujud. Tak pernah terpikirkan oleh kita sama sekali. Bahwa ia sanggup membelikannya untuk sang istri, tak hanya sekali bahkan dua kali, bahkan ia sendiripun punya untuknya. Aku bukan riya yaa guys, aku cuma mau sharing lagi – lagi kekuatan bersyukur maha dahsyat yang Allah tunjukkan lewat perantara suamiku. Sekali lagi aku bersyukur pernah memiliki suami yang begitu sayang kepadaku.
Cincin pesanan suami jadi setelah ultahku. Kami memutuskan untuk mengirimnya ke alamat rumah kami di Jakarta. Sayangnya kamu tidak sempat memakaikan cincin ini langsung ke jariku. Aku pulang ke Jakarta bersama dengan dirimu yang sudah menjadi jenazah. Lihat sayang, cincin ini begitu indah. Kilauan berliannya sangat silau putih bersih, seputih ikhlas cintamu kepadaku.

So kado terkahirku darimu berupa liburan dan cincin ini begitu special dan memorable. Tak ada yang bisa aku lakukan untuk membalasnya kecuali dengan doa – doa untukmu. Ya Allah terimalah pahala dan doa – doaku untuknya. Aamiin.


Back to Top