Translate

Sabtu, 25 November 2017

Buah Dari Ikhlas, Langsung Dibayar Kontan Sama Allah

Liburan ke Turki aku dan suami ini sungguh dadakan. Surprise dari pak suami dan bukti kasih sayang Allah kepadaku. 2 tahun lalu, aku pernah post di Instagram keinginanku untuk melihat Blue Mosque yang mendapat julukan masjid tercantik di dunia. Saat itu kami baru menikah dan masih morat-marit keadaannya. Jangankan untuk jalan – jalan ke luar negri, agar tiap bulan bisa nabung aja udah bersyukur. Tapi tetap berdoa dalam hati semoga suatu saat bisa kesana. Ternyata Allah mendengar doaku. Ia mengabulkannya dengan jalan yang tak disangka – sangka.


"Maaf bu, visa ibu sudah tidak bisa diperpanjang. Jika Ibu masih ingin tinggal di Maroko, satu – satunya cara adalah ibu harus keluar dulu dari Maroko lalu masuk kembali. Dengan begitu secara otomatis ibu akan mendapat free visa lagi selama 3 bulan", ujar petugas Kedutaan Besar Kerajaan Maroko. 

Kamipun bingung karena pemberitahuan dari Kedutaan Maroko hanya seminggu sebelum jatuh masa tempo visaku berakhir. Negara terdekat dari Maroko adalah Spanyol, tapi sayang untuk membuat visa perlu waktu 2 bulan. Tidak mungkin. Mau berkunjung ke Afrika tidak disarankan oleh Kedutaan Indonesia karena sedang ada konflik dan ternyata tiketnya super mahal kesana. Hampir sama dengan tiket pulang ke Indonesia. Kedutaan Indonesia menyarankan Negara Turki, karena negara ini menerapkan e-visa jadi sangat mudah mendapatkannya. Ini merupakan angin segar untukku.



Suamipun menyuruhku untuk mendraft budget. Akupun membuat pilihan budget pergi sendiri atau berdua. Pilihan pergi berdua itu sebenarnya hanya angan2 semata saja karena pekerjaan suami sedang tidak bisa ditinggal jadi mustahil untuk cuti, lha selama 2 minggu ini aja dia selalu lembur.

Mendengar dilema tentang visaku, atasan pak suami yang bule Perancis bilang bahwa ada kerabat di Turki. Bule Perancis ini menikah dengan orang Indonesia, nah teman istrinya ini menikah dengan orang Turki dan menetap di Turki. Beliau pun mengirimkan nomor mbak Sinta, agar aku berkenalan dengannya. Ternyata mbak Sinta orangnya sangat ramah dan humble. Aku ceritakan hal ini ke pak suami. Seandainya aku jadi ke Turki, mbak sinta bersedia menjemput dan menemani kami selama di Istanbul. Angin segar lagi buatku.



Setelah berpikir – pikir, pak suami tidak tega melihatku ke Turki sendirian. Budget untuk pergi berdua juga ternyata puluhan juta. Well, cari uang segitu untuk pak suami yang kerja lapangan sungguhlah sulit. Ya sudah kamipun akhirnya memutuskan untuk aku pulang saja ke Indonesia. Aku juga sudah memberitahu kepada keluarga dan teman bahwa minggu depan aku akan pulang ke Indonesia. Berat ? Awalnya iya, karena aku sebenarnya ingin ke Turki dan ini seperti kesempatan di depan mata. Tapi apa boleh buat kalau memang tidak memungkinkan, insyaallah suatu saat ada kesempatan lagi. Kutarik nafas dalam – dalam mencoba merelakan. Akupun ikhlas. Booking pesawat.

Ting !

Chat dari pak suami.

‘Kamu sudah booking tiket pesawat sayang?'
‘Ini udah booking tinggal bayar say’
‘Yaudah ga usah dibayar. Kita jadi jalan aja ke Turki.’
‘Serius?? Budgetnya gimana? Kan mahal banget say. Aku gpp kok pulang ke Indonesia, aku juga udah bilang mama sama teman-teman’
‘Insyaallah aku mau liburan sama kamu. Bulan depan kan kamu ultah. Anggap aja ini kado buat kamu.’
‘Yakin?? Ini ke Turki ngebuang duit puluhan juta lho say’
‘Bismillah say, aku mau nyenengin istri’

Whoaaa untung belum dibayar, kalau tidak bisa hangus itu tiketnya. Tapi aku tidak langsung booking tiket ke Turki. Aku menunggu suami pulang ke rumah untuk membahasnya lebih detail. Aku penasaran alasan apa yang membuat ia berubah pikiran.

"Tadi siang Pak Jung (big boss) tanya rencana kita bagaimana untuk urus perpanjang visa. Istri jadi ke Turki ? Aku Cuma senyum aja sayang pas mau jawab lagi eh Pak Jung langsung bilang. Yasudah sana Surat temani istri ke Turki sekalian kalian liburan disana", kata suami sambil menirukan gerakan Pak Jung.

Pak Jung memberikan cuti 5 hari kepada suami. Lalu tanpa pikir panjang lagi tiba – tiba juga pak suami merelakan budget yang besar untuk liburan. Langsung mau liburan bareng. Buatku, ini seperti ketiup angin sepoi – sepoi di pantai namanya saking segarnya hehhee. Eits tapi tunggu, aku harus memastikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum akhirnya loncat kegirangan.

Akupun menatap matanya dalam – dalam. Aku minta ia menatapku juga. Aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Aku ingin mengetahui kemantapan hatinya, kerelaan hatinya untuk mengikhlaskan budget.

"Sayang, aku tanya lagi sekarang. Aku udah ikhlas kalau pulang ke Indonesia. Sahabatku juga akan menikah jadi aku bisa menghadiri pernikahannya. Sekarang tiba - tiba kamu minta kita pergi ke Turki. Budget kesana sangat mahal. Apa kamu ikhlas? Aku tidak mau kamu setengah hati masih belum merelakan budget segitu. Tidak apa – apa tidak ke Turki. Aku lebih ikhlas", kataku dengan nada serius.

Suamikupun menggenggam erat tanganku, "Bismillah sayang, kita ke Turki. Aku ikhlas. Aku pengen nyenengin istri, liburan bareng. Kamu udah hampir setahun disini tapi aku selalu sibuk kerja terus. Kita kan belum pernah liburan."

"Alhamdulillah kamu ikhlas. Semoga Allah melimpahkan rejekimu sayang, menggantikan semuanya berkali-kali lipat. I love you."

"I love you too sayang". Lalu bibir hangatnya menyentuh bibirku.

***




Malam sebelum kami berangkat ke Turki, Pak Jung ingin bertemu dengan kami. Kamipun janjian di café dekat apartemen Pak Jung. Pak Jung dan pak suami berbincang tentang pekerjaan. Lalu tiba-tiba beliau mengeluarkan amplop putih dan menyerahkannya kepada kami.

"Ini saya ada sedikit uang. Kalian bisa pakai ini untuk jalan – jalan di Turki." Lalu beliau pergi meninggalkan kami.

Alhamdulillah ya Allah rejekiMu luar biasa. Engkau langsung menunjukkan kepada kami buah dari ikhlas. Diriku yang ikhlas menerima tak jadi pergi ke Turki, Kau tentukan aku berlibur dengan suami. Suamiku ikhlas merelakan budget besar, Kau berikan padanya tambahan rejeki kepada kami.



Kamipun tak henti-hentinya bersyukur atas karuniaMu. Terutama diriku, karena liburan ini ternyata adalah liburan pertama dan terakhir kami. Dua bulan  setelah kami liburan, Sang Maha Kuasa memanggil suamiku tersayang. Baru sadarlah aku sekarang. Sewaktu liburan, aku begitu excited sampai kadang lupa ngevlog dan foto namun pak suami yang selalu cerewet minta foto dan suruh bikin vlog. Oh, mungkin alm ingin liburan ini terdokumetasi dengan baik.











Back to Top